IF YOU CAN DREAM IT YOU CAN DO IT

Rabu, 17 Desember 2008

Pohon Jati





JATI JUMBO

Jika Anda mempunyai :
• Area kebun yang cukup luas,
• Tanah kosong yang masih pikir-pikir mau dimanfaatkan untuk apa,
• Halaman rumah yang cukup luas,
• Area penghijauan di pabrik-pabrik serta instansi pemerintah & swasta,
• Atau jika Anda tidak mempunyai tanah tetapi sanggup menyewa tanah cukup luas dalam masa panjang (25 tahun) Maka sekaranglah Anda dapat mengetahui dan menentukan pilihan investasi dengan hasil yang luar biasa, lanjutkan mengetahui informasi dibawah ini.

JATI JUMBO adalah salah satu produk unggulan dari laboratorium kultur jaringan divisi perkebunan dan kehutanan PT NUSA INDAH HORTIMEX yang dilengkapi dengan sebuah bangunan laboratorium kultur jaringan modern seluas 800m² dan nursery pembibitan seluas 40.000m², terletak di Ciawi Bogor. Selain itu dilengkapi pula perkebunan untuk riset dan pengembangan tanaman induk, terletak di Cicurug Sukabumi seluas 60.000m². Sehingga dapat menjamin penyediaan bibit dalam jumlah besar, secara kontinyu dan bermutu tinggi.

JATI JUMBO® berasal dari klon Jati-Jati Super asal Myanmar dan Thailand, yang oleh para pakar Jati dibudidayakan dan dikembangkan selama puluhan tahun di kepulauan Solomon.

JATI JUMBO® punya ciri khas berikut :
1. Daun tidak terlalu melebar, namun tebal, kuat dan tumbuh condong keatas. Pasangan-pasangan daun tumbuh dengan serasi dan warna hijau kebiru-biruan (olive).
2. Batang tegak lurus vertical, bulat dan besar (sangat kokoh), tahan penyakit, tumbuh sangat cepat, relatif sedikit bercabang.
3. Pucuk batang relative kuat, jarang patah karena badai atau hama, sehingga tanaman dapat tumbuh sempurna. Tanaman Jati yang sering patah bagian pucuk, akan tumbuh bercabang-cabang, sehingga pohon tumbuh agak pendek dan hasil kayu akan berkurang.

PROSPEK & ANALISA USAHA PROSPEK Melihat kenyataan kebutuhan kayu dunia yang semakin meningkat setiap tahun sementara areal hutan di masing-masing negara semakin berkurang, maka dapat diperkirakan beberapa tahun lagi dunia akan semakin sulit memenuhi kebutuhan kayu bermutu. Indonesia khususnya yang beberapa tahun lalu masih merupakan salah satu sentra produksi kayu dunia, kini bahkan sudah mulai kesulitan memenuhi kebutuhan kayu dalam negeri sendiri. Untuk kayu bermutu tinggi, kayu Jati khususnya, dapat diperkirakan akan lebih sulit lagi untuk mendapatkannya, maka dapat dipastikan harga akan semakin tinggi. Indonesia yang letaknya disekitar ekuator, dengan sinar matahari yang cukup intensif dan panjang, ditunjang oleh curah hujan yang cukup dan tanah subur yang masih sangat luas, ditinjau secara komersial penanaman Jati jelas mempunyai prospek yang sangat cerah. Tidak mengherankan, beberapa tahun lalu usaha penanaman Jati secara komersial dibeberapa negara masih menjadi monopoli pemerintah. Kini dengan semakin terbukanya dunia usaha, tersedianya jenis-jenis bibit Jati yang diproduksi melalui kultur jaringan yang sangat unggul, tumbuh cepat dan berkualitas tinggi, khususnya pada JATI JUMBO® akan menghasilkan kayu yang bermutu tinggi dan seragam dalam jumlah besar. Hal ini memperjelas prospek usaha yang lebih cerah.

ANALISA USAHA Perkiraan biaya per hektar dalam 6 tahun pertama, bila 1 hektar ditanam 1.000 pohon.
Beli Bibit 1000xRp.17.500**,-/pohon = Rp 17.500.000,-
Pupuk & Obat-obatan 1000xRp. 4.000,-/pohon = Rp. 4.000.000,-
Biaya Tanam 1000xRp. 500,-/pohon = Rp. 500.000,-
Biaya pemeliharaan selama 6 tahun = Rp.18.000.000,- --------------- Rp.40.000.000,- Perkiraan hasil kayu (Jati muda) setelah 6 tahun pertama 500 pohon x 0,25m³ = 125m³ nilai 125m³ x Rp.5 juta,- = Rp. 750 juta,-
Perkiraan hasil kayu dari sisa penjarangan setelah berusia 15 tahun 500 pohon x 1,25m³ = 750m³ nilai 750m³ x Rp. 8 juta,-/m³ = Rp. 6,000 milyar,-
Bandingkan dengan metoda lain mana dari inevestasi yang dapat memberikan nilai tambah sebesar itu? ** Harga sudah berubah !

Catatan Perkiraan pengeluaran biaya per hektar akan semakin rendah bila penanaman berskala lebih besar. Hasil kayu sangat bergantung pula pada kondisi kesuburan tanah dan curah hujan

ASPEK TEKNIS TANAM
• Tanaman berada di daerah tropis dengan curah hujan sekitar 1000-2000 mm/tahun, suhu 24-35°C, tanah berkapur, ketinggian dibawah 700m dari permukaan laut. Jati Jumbo sangat menyukai udara panas dengan terik matahari yang panjang.
• Jarak tanam sekitar 2.5-3meter per hektar 1000-1.200 pohon. Penanaman yang rapat dapat membantu tanaman tahan terhadap angin besar/badai dan tumbuh cepat keatas dengan sedikit bercabang. Setelah 6-7 tahun perlu dijarangkan (50%) agar tanaman Jati sisa dari penjarangan (50%) dapat tumbuh besar.
• Penanaman waktu musin hujan mempermudah pekerjaan pengairan/penyiraman namum musim kemaraupun dapat ditanam asal ada sistim pengairan/penyiraman.

CARA TANAM, PEMUPUKAN & PENGENDALIAN HAMA
• Membersihkan lahan, menentukan titik tanam dengan cara mengukur jarak sekitar 3-3,5m dan mematok lahan serta membuat lubang tanam berukuran 60cmx60cm sedalam 60cm.
• Mencampur tanah hasil galian dengan 4kg pupuk kandang ayng sudah matang, 100 gram kapur tani atau kapur dolomit, 200 gram NPK 15:15:15 setelah diaduk rata tanah campuran tersebut dikembalikan ke dalam lubang.
• Menanam Jati harus hati-hati, jangan terlampau dalam sehingga menutupi bagian batang terlalu dalam. Di tempat-tempat yang banyak tiupan angin diperlukan patok penyangga tanaman.
• Untuk daerah yang banyak rayap atau hama akar, seperti uret, uter-uter atau lainnya, taburkan sekitar 50 gram currater, ruby (Carbofuran) disekeliling batang.
• Penyiraman disesuaikan dengan kondisi lapangan.
• Pemupukan dapat diulangi setiap 3 bulan dengan NPK 15:15:15 sebanyak 100-150 gram/pohon.
• Serangan hama : pada umumnya pohon Jati Jumbo sangat tahan terhadap serangan hama. Ulat daun yang menyerang daun pada umumnya dapat diatasi dengan disemprot insektisida. Sedangkan serangan inger-inger, oleng-oleng yang melubangi batang dapat diatasi dengan paraffin, meni kayu dan semprotkan insektisida. Pohon Jati umur 6-7 tahun dilakukan penjarangan sekitar 50% dengan cara tebang selang seling. Pohon Jati sisa penjarangan yang berjumlah sekitar 500-600 pohon setiap hektarnya akan tumbuh besar lebih cepat lagi. Kondisi pertumbuhan Jati umur sekitar 1 tahun. Jati (Tectona grandis) a. Daerah Penyebaran dan Tempat Tumbuh Jati merupakan tanaman asli di sebagian jazirah India, Myanmar, Thailand, Indo Cina, Jawa, serta beberapa pulau kecil lainnya di Indonesia, seperti Muna (Sulawesi Tenggara). Di luar daerah tersebut jati merupakan tanaman asing atau eksotik. Jika dilihat dari penyebarannya, tanaman jati tersebar di garis lintang 90 LS sampai 250 LU, mulai Benua Asia, Afrika, Amerika dan Australia bahkan sampai Selandia Baru. Di Asia tanaman jati secara alami tersebar di negara-negara Asia Tenggara, Taiwan, India dan Srilanka. Di Australia dan Pasifik, ditemukan di Queensland, Kepulauan Fiji, Kepulauan Ryuku, Kepulauan Solomon serta Selandia Baru. Di Afrika , tanaman jati terdapat di Sudan, Kennya , Tanzania, Tanganyika, Ghana, Uganda, Senegal, Nigeria dan beberapa negara di Afrika Barat. Sementara itu, di Amerika tanaman jati terdapat di Jamaika, Panama, Argentina, Puerto Rico, Kepulauan Tobago dan Suriname. Jati tersebut tumbuh sebagai tanaman spesifik dan mempunyai karakteristik yang berbeda-beda (Tini dan Amri, 2002). Jati adalah satu-satunya jenis yang diusahakan kehutanan secara besar-besaran di pulau jawa pada Zaman Kolonial Belanda. Luas lahan Jati di Indonesia adalah 923.918 Ha (hampir 78,04 % dari total luas hutan tanaman jenis-jenis utama di Indonesia). Tersebar di Jawa Timur 150.325 ha, DI Jawa Barat dan Jawa Tengah selua 768.293 ha dan di luar Jawa seluas 4.300 ha. Di Jawa jati tumbuh baik di daerah-daerah rendah dan panas serta tersebar secara merata. Umumnya memilih tanah yang mempunyai musim kemarau yang nyata dan tidak mau tumbuh pada tanah yang selalu lembab. Terutama tumbuh di tanah yang berpasir atau berbatu-batu tetapi tidak tergenang air.

Jati cocok di tanam pada daerah tropis, tanaman ini termasuk tanaman pioner yang dapat tumbuh di berbagai jenis tanah, kecuali tanah gambut atau rawa. Tanah yang idela untuk penanaman jati adalah tanah jenis alluvial dengan pH 5- 8. Topografi tanah dengan kemiringan kurang dari 20%. Jati dapat tumbuh dengan baik jika ditanam di daerah dataran rendah hingga dataran tinggi dengan ketinggian 0-700 m dpl., artinya lokasi yang dekat pantai pun dapat dijadikan tempat penanaman jati. Pada umumnya jati tidak tahan dengan kondisi tergenang air, sehingga dalam penanaman jati dibutuhkan sistem drainase yang baik dengan solum yang cukup dalam. Kisaran hujan yang disukai adalah 1200-2500 mm/th dengan 3-5 bulan kering atau curah hujan kurang dari 50 mm/bulan. Temperatur berkisar 19-360C yang merupakan temperatur normal daerah tropis. Sementara itu intensitas cahaya yang dibutuhkan antara 75-100%.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar